Rabu, 21 Oktober 2015

Makalah Perkandangan

TUGAS KELOMPOK
PRODUKSI TERNAK UNGGAS












Disusun oleh :
KELOMPOK : I B
Burhan Aminuddin                             23010113120050
Muhammad Fajar Mahardhika         23010113120056
Rizkiyatul Mufidah                             23010113120068
Maemonah                                            23010113120070
Dhimas Puspitasari                              23010113120080











PROGRAM STUDI S-1 PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Peternakan  itik petelur merupakan usaha kegiatan memelihara   bebek dengan tujuan  ekonomi menghasilkan telur. Pemeliharaan ternak itik petelur adalah usaha yang memilki tujuan untuk peningkatan atau kemajuan dalam usaha dana pemenuhan kebutuhan  protein hewani  dari telur yang terus meningkat untuk itu perlu ditingkattkan  melalui efisiensi produktivitasnya. Efisiensi produksi peternakan sangat bergantung kondisi ternak, lingkungan tempat hidup ternak (perkandangan), ketersediaan pakan dan manajemen. Kondisi ternak dan lingkungan sangat bersar pengaruhnya dalam produktivitasnya walaupun manjemen dan pakan juga penting. Hal ini karena lingkungan tempat hidup terutama sistem perkandangan di daerah tropis yang tidak bisa konstan, untuk itu perlu diperhatikan kondisi fisik ternak dan lingkungan yang cocok untuk produktivitasnya.
Tujuan dari  Study kasus  terutama ini mengetahui dan mengamati fisiologis lingkungan  terutama perkandang pada ternak.  Manfaat dari praktikum ini adalah  mahasiswa mampu mengetahui kondisi  lingkungan dan perkandangan yang  baik utuk  produktivitas  itik petelur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1.             Itik
Itik merupakan salah satu jenis unggas yang sudah di domestikasi menjadi itik lokal  atau hewan ternak untuk tujuan tertertu salha satunya itik petelur. Itik petelur  berada di Indonesia yang berasal dari itik Indian Runner. Itik ini  merupakan itik petelur meyebar dari jawa terutama Jawa Tengah yang dibudiyakan sebagai itik petelur (Suharno dan Amri, 2011).  Itik    merupakan hewan memilki sifat aquatik dan omnivorus yaitu pemakan segalanya.  Keunggulan Itik petelur dibandingkan ternak unggas petelur lainya yaitu  mampu menghasilkan produksi telur dengan waktu yang cukup  lama dibandingkan unggas lain, tingkat mortalitas itik lebih kecil sehingga menguntungkan. Salah satu itik yang sering dibudidayakan adalah itik tegal dan mojosari karena produksi telur tinggi sekitar 250 butir /tahun dengan pemeliharan intensif.  Ciri-ciri  itik petelur  secara umum memilki tubuh ramping, berdiri hampir tegak seperti botol dan lincah.
1.2.              Aspek perkandangan
Aspek perkandangan  salah satu aspek yang sangat berpengaruh pada produktivitas ternak, karena perkandangan merupakan aspek fisik  yang perlu diperhatikan untuk mempermudah pengelolaan dan pemeliharaan ternak. Perkandangan merupakan tempat atau lahan atau lokasi yang digunakan sebagai segala aktivitas peternakan yang di dalamnya terdapat kandang dan banguan serta alat- alat penujang kegitan peternakan (Putra, 2009).   
1.2.1.      Kandang
Kandang adalah tempat hidup ternak untuk  berlindung, beristirahat dan juga merupakan tempat untuk melakuakan aktivitas seperti bertelur bagi itik.  Salah satu kandang dengan sistem pemeliharan intensif yang baik  adalah  kandang kering .  Kandang yang hanya menyediakan air untuk aktifitas mencuci muka dan minum.  Kelebihan dari kandang kering adalah untuk meminimalisasi bau kotoran itik. Kontruksi   dan bahan kadang juga perlu diperhatikan karena sangat berpengaruh secara langsung terhadap  iklim  dalam kandang.  Bahan yang  dipilih harus sesuai dengan daerah peternakan atau lokasi karena  Indonesia merupaka daerah beriklim tropis yang kondisinya tidak stabil   dimana daratan rendah memiliki suhu yang sangat tinggi dan angin yang kencang dan didaratan tinggi memilki kelembaban yang tinggi dan suhu yang rendah.  Bahan kontruksi untuk kandang daratan rendah harus  berbahan yang tidak mudah menyerap panas. Konstruksi  dinding kandang   yang baik untuk dareaha tropis biasanya dibuat dengan ukuran setengah terbuka sehingga  sirkulasi atau pertukaran udara lancar. Sirkulasi udara yang lancar di dalam kandang dapat mengurangi cekaman panas, kelembaban, dan polusi amonia  Atap kandang  terbuat dari genting atau asbes yang memberikan keteduhan bagi ternak sehingga tidak terlalu panas ketika terkena sinar matahari dan dingin ketika hujan.
1.2.2.      Perlengkapan kandang  
Kandang yang baik harus dilengkapai dengan fasilitas yang dapat menunjang kegiatan peternakan yang sifatnya mempermudah peternakan untuk mengelola peternakan. Falisitas yang harus ada yaitu sumber listrik untuk penerangan dan membantu mempermudah penggunaan alat-alat yang memerlukan sumber listrik. Selain itu  sumber air bersih yang sangat penting untuk menjalan kegiatan peternakan  karena iar berfungsi sebagai suamber air minum ternak dan membantu mempermudah  sanitasi  di kandang. Tempat air  minum dan makan  juga sangat penting  karena mempermudah pengaturan pemberian pakan pada ternak agar pakan  dan minum yang diberikan  tidak mudah tercecer (Suharno dan Amri, 2011).

1.2.3.      Lingkungan kandang
Lingkungan perkandangan  itik  petelur sedang dalam fase  produksi telur sangat berpengaruh terhadap produktivitas ternak karena kesehatan ternak dan produk atau hasil ternak dipengaruhi oleh lingkungan,  ternak yang tidak sehat akibat terserang penyakit akibat lingkungan yang kurang baik dapat menyebabkan produksi telur  menurun atau  telur yang dihasilkan berkualitas  jelek   akibat  lingkungan  yang tidak mendukung
Lokasi kandang harus jauh dari pemukiman yang padat tetapi mudah dijangkau oleh kendaraan. Lingkungan yang padat dan bising dapat menyebabkan ternak mengalami stress selain itu stres  pada ternak dapat disebabkan oleh perubahan cuaca, makanan, , suara keras yang mendadak dan faktor lingkungan lain yang sifatnya tiba-tiba. Gangguan-gangguan yang sifatnya tiba-tiba  secara langsung dapat menurunkan produksi telur, karena itik cenderung untuk menahan telurnya dalam alat reproduksi bila terjadi stres, selain itu   ternak  sulit dikendalikan, mudah ketakutan dan tidak mau makan (Suharno dan Amri, 2011).  Keadaan lingkungan sekitar  kandang juga berpengaruh  terhadap iklim mikro  pada kandang  salah satunya adanya naungan disekitar kandang yaitu pohon dapat membantu untuk mengurangi intensitas radiasi matahari sehingga dapat mengurangi  suhu lingkungan kandang  yang dapat meyebabkan cekaman panas pada tubuh ternak  di siang hari .





BAB II
ISI
2.1.  Profil Peternakan
Peternakan itik yang dievaluasi adalah peternakan itik  milik bapak Slamet Utomo yang beralamat di daerah pesisir  pantai Tambak lorot  kota Semarang Jawa Tengah. Itik tersebut dipelihara sejak  fase stater yaitu umur 0- 1minggu.   Usaha   yang dimiliki  selain peternakan itik  petelur  juga memilki usaha lain yaitu usaha  peternakan itik pedaging dan produksi pembuatan  pakan itik yaitu tepung ikan.  Jumlah itik yang dipelihara sebanyak 300 ekor itik petelur yang sudah dalam fase produksi dengan umur kurang lebih satu  tahun atau 50 minggu.  Itik yang dipelihara merupakan itik petelur mojosari dan  itik tegal  yang di suplai dari peternakan di daerah Purwodadi Jawa Tengah
2.2. Evaluasi Perkandangan
             Lokasi kandang yang digunakan  terletak di lokasi yang strategis karena berda didaerah yang mudah  atau dekat dengan sumber air, kandang sangat terjankau karena mudah transportasi untuk menuju lokasi, akan tetapi kandang tersebutjuga memiliki sisi negatif yaitu lokasi kandang tetlau dekat dengan pemukiman yang sangat padat penduduk, hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi ternak terutama produksinya karena itik sangat sentisitif terhadap kondisi lingkungan terutama  yang sifatnya gaduh dan bising.  Hal ini tidak sesuai   lokasi Peternakan atau kandang yang baik menurut Suharno dan Amri ( 2011) yang menyatakan  lokasi kandang harus jauh dari pemukiman yang padat tetapi mudah dijangkau oleh kendaraan. Lingkungan yang padat dan bising dapat menyebabkan ternak mengalami stress selain itu stres  pada ternak dapat disebabkan oleh perubahan cuaca, makanan, suara keras yang mendadak dan faktor lingkungan lain yang sifatnya tiba-tiba. Gangguan-gangguan yang sifatnya tiba-tiba  secara langsung dapat menurunkan produksi telur, karena itik cenderung untuk menahan telurnya dalam alat reproduksi bila terjadi stres, selain itu   ternak  sulit dikendalikan, mudah ketakutan dan tidak mau makan.
Lingkungan sekitar kandang selain tidak boleh dekat dengan pemukiman juga harus  sesuai dengan kebutuhan ternak dan mendukung kondisi fisik kandang yang baik utuk ternak. Keadaan lingkungan sekitar  kandang juga berpengaruh  terhadap iklim mikro  pada kandang  salah satunya adanya naungan disekitar kandang yaitu pohon dapat membantu untuk mengurangi intensitas radiasi matahari sehingga dapat mengurangi  suhu lingkungan kandang  yang dapat meyebabkan cekaman panas pada tubuh ternak  di siang hari.
 Kandang yang digunakan pada peternakan itik milik bapak Slamet merupakan kandang sifatnya kering dengan pola pemiliharaan intensif. Kandang tersebut  merupakan kandang dengan kontruksi dari bahan bambu dan kayu serta papan,  lantai kandang berupa tanah, atap berbahan genting dari tanah liat, dengan tipe atap  gable atau tipe A. Dinding kandang berasal dari bahan bambu dengan  setengah bagian  rapat dan  setengahnya  terbuka dengan penutup berupa terpal. Penggunaan  kontrusksi kandang  termasuk  baik karena penggunaan penutup terpal  dapat mengurangi dan mengontrol angin yang masuk ke dalam kandang ketika siangan dan malam. Konstruksi  kandang  yang digaunakan termasuk baik karena dibuat dengan ukuran setengah terbuka sehingga  sirkulasi atau pertukaran udara lancar. Sirkulasi udara yang lancar di dalam kandang dapat mengurangi cekaman panas, kelembaban, dan polusi amonia.   Atap kandang yang digunakan cukup baik  karena terbuat dari genting yang memberikan keteduhan bagi ternak sehingga tidak terlalu panas ketika terkena sinar matahari dan dingin ketika hujan.
Lantai kandang yang digunakan berasal dari tanah hal ini sebenarnya kurang  sesuai untuk ternak yang sifatnya aquatik  karena itik suka dengan air dan ekskretanya bersifat basah  sehingga  penggunaan tanah ssebagai lantai kandang kurang bagus karena sifat tanah yang mudah basah akibat tumpahan air dan ekskreta itik  sehingga menyebabakan  suhu  turun dan kelembaban tinggi. Suhu dan kelembaban udara merupakan dua faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi telur itik, karena dapat menyebabkan perubahan keseimbangan panas dalam tubuh ternak, keseimbangan air, keseimbangan energi, keseimbangan tingkah laku ternak. Lantai  yang terlalu lembab dapat mempengaruhi suhu disekitarnya, kelembaban dapat mempengaruhi penyerapan zat amoniak yang dihasilkan dari kotoran itik, kandungan amoniak yang tinggi mengganggu itik dalam pengambilan oksigen, sehingga mengganggu metabolisme, penurunan konsentrasi hormon dalam darah, yang akibatnya berpengaruh pada tingkat produksi telur. lantai kandang dapat basah oleh tumpahan air minun.
Ukuran kandang  yang digunakan untuk kandang petelur milik bapak Slamet memiliki  luas 125 m2 dengan lebar 5 m danpanjang 5 m. Berdasarkan  ukuran tersebut kandang bapak Slamet milki kepadatan 2 – 3 ekor/m2. Hal in termasuk kandang yang baik karena tidak melebihi kapasitas atau kepadatan kandang bebek  yang seharunya yaitu 4-5 ekor/m2. Kepadatan kandang sangat mempengaruhi kondisi ternak karena semakin padat ternak dalam kandang  dapat meneyebabkan terngganggu itik  dalam proses pengambilan oksigen  dan kondisi  suhu kandang dapat meningkat  dan terngganggu itik  dalam proses pengambilan oksigen sehingga sirkulasi udara didalam kandang menjadi terganggu.

 Pelengkapan  penunjang    yang sangat penting   dalam perkandangan harus tersedia. Berdasarkan hasil pengamatan kandang miliki bapak Slamet  sudah termsuk standar yang baik karena dilengkapi  dengan tempat pakan dan minum, tempat, penyimpanan  pakan, saluran irigasi dan sanitasi peruba selokan, penampungan air dan lampu penerangan. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang.




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN



DAFTAR PUSTAKA
Putra, A. 2009. Potensi Penerapan Produksi Bersih Pada Usaha Peternakan Sapi Perah (Studi Kasus Pemerahan Susu Sapi Moeria Kudus Jawa Tengah). Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. (Tesis)
Suharno, B. Dan K. Amri. 2010. Panduan Beternak Itik Secara Intensif. Panebar Swadaya. Jakarta
Sari, O., B. Priyono dan  N. R. Utami. 2012. Suhu, kelembaban, serta produksi telur itik pada kandang tipe litter dan slat. Unnes Journal of Life Science 1(2) : 94-100


Tidak ada komentar:

Posting Komentar